RIAU24.COM - Pada hari Jumat (29 Agustus), Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra diberhentikan dari jabatannya oleh Mahkamah Konstitusi. Ia dipecat dengan alasan pelanggaran etika.
Shinawatra adalah perdana menteri termuda Thailand dan juga merupakan pemimpin keenam dari keluarga miliarder Shinawatra yang diberhentikan oleh militer maupun pengadilan.
Putusan pengadilan didasarkan pada percakapan telepon perdana menteri yang bocor dengan mantan pemimpin Kamboja Hun Sen.
Percakapan tersebut terjadi ketika kedua negara terlibat dalam pertempuran lintas batas.
Pemecatannya juga akan menyebabkan pemilihan umum untuk memilih perdana menteri baru negara tersebut.
Paetongtarn terdengar meminta maaf dalam percakapan telepon yang bocor tersebut; ia mengatakan bahwa ia berusaha mencegah perang.
"Saya tidak menginginkan apa pun untuk diri saya sendiri. Saya hanya memikirkan bagaimana menghindari pertempuran dan pertumpahan darah," ujar Paetongtarn kepada para wartawan, membahas panggilan telepon yang memicu kegemparan besar di negara itu dan juga gagal mencegah konflik.
"Saya tegaskan kembali bahwa saya sungguh-sungguh berniat mengabdi kepada bangsa. Saya tidak punya niat jahat," tambahnya.
Protes Thailand
Ketika rekaman panggilan telepon itu tersebar, protes meletus di Thailand.
Para demonstran terlihat mengibarkan bendera Thailand dan meneriakkan slogan-slogan yang menuntut Shinawatra untuk mundur.
Ia juga disebut pengkhianat dan dituduh mengkhianati negara.
Bagaimana konflik meningkat
Pada 24 Juli, pasukan Thailand dan Kamboja saling tembak di dekat perbatasan yang disengketakan.
Kedua belah pihak saling menyalahkan siapa yang memulainya.
Bentrokan dimulai di lokasi kuil kuno Prasat Ta Muen Thom, yang terletak di sepanjang perbatasan Provinsi Surin, Thailand, dan Provinsi Oddar Meanchey, Kamboja.
Tembakan lintas batas kemudian menyebar ke setidaknya enam wilayah.
Hal ini menyebabkan evakuasi lebih dari 100.000 orang yang tinggal di sepanjang wilayah perbatasan.
Thailand dan Kamboja telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata setelah lima hari pertempuran lintas batas.
Pencairan ini terjadi setelah perundingan yang dimediasi oleh Malaysia.
(***)