RIAU24.COM - Wasekjen Partai Demokrat, Jansen Sitindaon miris dengan usulan sejumlah netizen agar calon anggota legislatif diwajibkan bergelar S2 dan memiliki skor TOEFL minimal 500.
Menurutnya, banyak kualifikasinya lebih dari yang diusulkan netizen. Tapi kalah, alias tak mendapatkan pilihan utama, dikutip dari rmol.id, Jumat, 29 Agustus 2025.
"Dalam daftar list di setiap Dapil, banyak caleg yang bahkan kualifikasinya lebih dari yang diusulkan netizen dibawah. Tapi tetap tidak dipilih rakyat," ujarnya.
Dia yakin, persoalan utama dalam pemilu legislatif bukanlah sekadar kualifikasi pendidikan atau kemampuan berbahasa asing.
"Tapi praktik politik uang," ujarnya.
"Jikapun kualifikasi seperti yang diharapkan netizen di bawah kemudian terpilih jadi DPR, pasti karena dia juga ikut bagi uang, jika sistem dan keadaannya Pilegnya masih seperti kemarin," tambahnya.
Bagi mayoritas pemilih, kapasitas dan intelektualitas belum menjadi ukuran utama.
"Beda dengan politik uang masih menjadi penentu," tutupnya.