Ahmad Sahroni Sebut Pendemo Tolol Rocky Gerung: DPR Emang Anjing Penggonggong

R24/zura
Ahmad Sahroni Sebut Pendemo TOLOL, Rocky Gerung: DPR Emang Anjing Penggonggong. (X/Foto)
Ahmad Sahroni Sebut Pendemo TOLOL, Rocky Gerung: DPR Emang Anjing Penggonggong. (X/Foto)

RIAU24.COM -Saudara, polemik antara Dewan Perwakilan Rakyat dan masyarakat terus bergulir. Kali ini, pengamat politik Rocky Gerung menyoroti pernyataan Ahmad Sahroni, anggota DPR dari Fraksi Nasdem, yang menuai kritik publik.

Dalam sebuah pernyataannya, Rocky Gerung menjelaskan filosofi parlemen yang kerap disebut sebagai watchdog atau anjing penjaga. Menurutnya, tugas parlemen adalah menggonggong kepada penguasa, sekaligus menjaga dan melindungi kepentingan rakyat.

Rocky menyebut, menjadi keliru bila parlemen justru menggonggong kepada rakyat. Hal itu dianggapnya konyol, karena berarti lembaga legislatif melupakan peran dasarnya sebagai pengawas jalannya pemerintahan.

Belakangan, DPR menjadi sorotan publik bukan hanya karena fasilitas dan gaji yang disebut menembus seratus juta rupiah per bulan, tetapi juga karena pernyataan sejumlah anggotanya yang memicu kemarahan.

Salah satunya datang dari Ahmad Sahroni. Menanggapi seruan pembubaran DPR yang merebak di media sosial, Sahroni menyebut pihak yang menyerukan hal itu sebagai “manusia paling bodoh sejagat raya."

Pernyataan tersebut kemudian menuai kritik, termasuk dari Rocky Gerung yang menegaskan kembali fungsi utama parlemen sebagai pengawas rakyat, bukan sebaliknya.

Sebelumnya, Crazy rich Tanjung Priok ini menghina publik yang mendorong wacana pembubaran DPR RI.

"Mental manusia yang begitu adalah mental manusia tertolol sedunia. Catat nih, orang yang cuma mental bilang bubarin DPR, itu adalah orang tolol sedunia," kata Sahroni.

Sontak ucapan Ahmad Sahroni menuai berbagai respons pedas dari berbagai kalangan.

Anggota DPR RI Ahmad Sahroni dianggap memiliki andil dalam kericuhan yang terjadi beberapa hari belakangan. Mulai dari demo, hingga driver ojek online (ojol) Affan Kurniawan yang tewas akibat dilindas kendaraan taktis (Rantis) Baracuda Brimob.

Ferry Irwandi Kritik Sahroni

Penilaian tersebut terucap oleh aktivis Ferry Irwandi. Sahroni bahkan ditantang debat oleh Salsa Erwina Hutagalung.

Sejak ucapan itu terlontar, gelombang demo mulai menyerbu Gedung DPR RI.

Ferry Irwandi mengatakan bahwa Ahmad Sahroni memiliki andil dalam semua tragedi yang terjadi beberapa hari belakangan.

Pada awal 2025, Ferry menjadi sorotan publik karena kritiknya terhadap rancangan Undang-Undang TNI. 

Setelah menyatakan dirinya "baik-baik saja" dalam video meski banyak spekulasi di baliknya, ia turun ke jalan mengritik UU TNI secara ideologis. Ia menegaskan bahwa keterlibatan militer dalam urusan sipil adalah hal yang tidak dapat ditawar.

Ferry juga adalah inisiator Malaka Project, sebuah gerakan konten edukasi dan pemberdayaan publik yang dirilis tahun 2023 bersama sejumlah influencer lain. 

Tujuannya adalah membangun generasi muda Indonesia yang cerdas, kritis, dan empatik, sejalan dengan visi "Indonesia Emas 2045

"Ingat @ahmadsahroni88 mulut sampah anda punya andil yang besar dari semua rangkaian buruk dan duka ini. nyawa yang melayang, korban yang terluka dan keluarga yang ditinggalkan.

Saya tidak peduli seberapa powerful anda, seberapa kaya anda dan seberapa banyak orang yang anda sudah penjara. Anda adalah salah satu pihak yang harus bertanggung jawab atas semua kekacauan ini.

Camkan itu baik-baik." tulis Ferry di Instagram.

Selain itu Mantan Wakapolri Komjen Pol (Purn) Oegroseno mengaku sakit hati mendengar hinaan Ahmad Sahroni.

"Saya sebagai Purnawirawan Polri merasa sakit hati dengan pernyataan Ahmad Sahroni Komisi III DPR RI yang mengatakan masyarakat tolol karena saya juga bagian masyarakat Indonesia," tulis Oegro di Instagram.

Komjen Oegroseno menamatkan pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) pada tahun 1978 dan meniti karier gemilang dalam tubuh Polri.

Ia pernah menjabat Kapolda Sulawesi Tengah, Kapolda Sumatera Utara, Kadiv Propam, Kalemdiklat, Kabaharkam, hingga akhirnya dilantik menjadi Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) pada tahun 2013.

Lahir di Pati, Jawa Tengah, pada 17 Februari 1956, Oegroseno dikenal karena sikapnya tegas dan penuh prinsip. 

Ia pernah menolak perintah eksekusi terpidana mati—sebagai bentuk menjaga nurani—yang berujung pada pemindahannya dari jabatannya saat itu.

Sebagai Wakapolri, Oegroseno sempat membangun hubungan lebih kooperatif antara Polri dan KPK, dan terlibat menjadi anggota tim independen untuk meredam ketegangan antara kedua lembaga penegak hukum tersebut.

(***)

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Riau24. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak