Setidaknya Ditemukan 200.000 Barel Radioaktif yang Berada 13.000 Kaki di Bawah Laut, Apakah Berbahaya?

R24/tya
Limbah radioaktif dalam tong ditemukan di Samudra Atlantik /net
Limbah radioaktif dalam tong ditemukan di Samudra Atlantik /net

RIAU24.COM - Sebuah tim ilmuwan telah menemukan 3.355 barel limbah radioaktif di dasar Samudra Atlantik.

Penemuan itu dilakukan pada kedalaman 13.000 kaki, dan ratusan mil lepas pantai dari Prancis.

Ini hanya sebagian kecil dari jumlah sebenarnya barel berisi limbah nuklir yang tersebar di dasar laut.

Antara tahun 1946 dan 1990, lebih dari 200.000 barel semacam itu dibuang oleh negara-negara Eropa, dengan asumsi itu adalah cara terbaik untuk menjaga orang-orang di darat tetap aman.

Ini dilakukan di bawah pengawasan Badan Energi Nuklir (NEA), sebuah badan yang terdiri dari 34 negara yang bertugas memastikan keselamatan nuklir dan pengelolaan limbah.

Tetapi sekarang ada kekhawatiran bahwa limbah ini dapat mencapai manusia melalui rantai makanan.

Para ilmuwan telah memperingatkan bahwa bahan radioaktif ini dapat diserap oleh kehidupan laut, yang dapat memasuki makhluk laut dan kemudian manusia yang memakan makanan laut yang terkontaminasi.

Ini dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang, merusak jaringan, dan meningkatkan risiko kanker.

Tong-tong itu tidak mampu menampung isi di dalamnya selamanya.

Tong-tong itu dirancang untuk melepaskan material radioaktif secara perlahan, tetapi pasti. Tong-tong itu memiliki masa pakai 20 hingga 26 tahun, dan masa itu sudah habis.

Lalu apa selanjutnya?

Para ilmuwan Prancis sedang dalam misi untuk memahami apa yang akan terjadi pada tong-tong ini.

Pada tahap pertama, mereka menggunakan sonar dan robot bawah air otonom UlyX untuk memetakan Dataran Abyssal.

Mereka mengatakan bahwa sebagian besar material radioaktif di tong-tong ini lemah dan tidak menimbulkan risiko langsung bagi manusia karena berada jauh di dalam laut.

Namun, hal ini tidak mengurangi efek jangka panjangnya, yang mencakup kontaminasi kehidupan laut dan memasuki rantai makanan.

Sekitar sepertiga material di tong-tong ini adalah tritium, yang dianggap tidak signifikan.

Sisanya adalah pemancar beta dan gamma, yang kehilangan radioaktivitasnya, dengan sekitar dua persen berupa radiasi alfa.

Limbah radioaktif yang dapat mencemari hewan laut dan manusia

Namun, beberapa radionuklida masih menjadi masalah.

Stronsium-90, yang menyerupai kalsium, dapat diserap oleh organisme laut, dan akhirnya masuk ke dalam rantai makanan.

Unsur-unsur yang tidak stabil ini memancarkan radiasi saat meluruh dan memiliki rentang hidup yang bervariasi.

Sesium-137 bertahan sekitar 30 tahun, plutonium-241 sekitar 13 tahun, dan uranium-238 dapat bertahan selama lebih dari 4,5 miliar tahun.

Ini berarti ada masalah yang perlu ditangani.

Tahap selanjutnya dari misi ini akan berlangsung pada tahun 2026, ketika para ilmuwan akan mengukur radionuklida dalam air, sedimen, dan organisme laut.

(***)

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Riau24. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak