Jepang Luncurkan Penyelidikan Antidumping Terhadap Impor Baja Tiongkok dan Korea Selatan

R24/tya
Pipa-pipa baja terlihat ditumpuk di sebuah kawasan industri di Shenyang, Provinsi Liaoning, Tiongkok /Reuters
Pipa-pipa baja terlihat ditumpuk di sebuah kawasan industri di Shenyang, Provinsi Liaoning, Tiongkok /Reuters

RIAU24.COM Jepang telah membuka penyelidikan anti-dumping formal terhadap impor baja dari Tiongkok dan Korea Selatan, dalam sebuah langkah yang bertujuan melindungi produsen dalam negeri dari gelombang produk asing yang murah.

Penyelidikan ini akan memeriksa impor gulungan, lembaran, dan strip galvanis celup panas, menurut pernyataan bersama dari Kementerian Perdagangan dan Keuangan pada hari Rabu, sebagaimana dilaporkan oleh Bloomberg.

Penyelidikan ini diperkirakan akan berlangsung hingga satu tahun.

Penyelidikan ini menyusul pengajuan permohonan pada bulan April oleh empat produsen baja besar Jepang, termasuk Nippon Steel Corp. dan Kobe Steel Ltd., yang berpendapat bahwa masuknya impor berharga murah merugikan industri lokal.

Para pejabat mengonfirmasi bahwa pemasok Tiongkok dan Korea Selatan akan memiliki kesempatan untuk menyerahkan bukti sebelum keputusan tentang bea masuk dibuat.

Ledakan ekspor baja Tiongkok menekan harga global

Tiongkok, produsen baja terbesar di dunia, mengalami lonjakan ekspor pada tahun 2025 seiring melemahnya permintaan domestik.

Perlambatan berkepanjangan di sektor properti yang secara tradisional merupakan pendorong utama konsumsi baja telah menyebabkan para produsen mengalami surplus besar, mendorong mereka membanjiri pasar luar negeri dengan baja berbiaya rendah.

Menurut Bloomberg, gelombang ekspor ini telah sangat membebani harga baja global dan meningkatkan persaingan, memukul produsen di Jepang, Korea Selatan, dan pusat manufaktur utama lainnya.

Para analis mengatakan langkah Jepang mencerminkan tren global yang lebih luas, karena pemerintah berupaya melindungi industri mereka dari dampak strategi ekspor agresif pabrik-pabrik Tiongkok.

Ketegangan perdagangan dan tarif AS mempersulit dinamika pasar

Industri baja Jepang sudah menghadapi pergeseran arus perdagangan dan persaingan yang semakin ketat.

Tarif yang diberlakukan oleh pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump telah membentuk kembali rantai pasokan baja global, menambah kompleksitas bagi produsen Jepang yang berusaha mempertahankan daya saing.

Kebijakan perdagangan ini telah memaksa eksportir untuk mencari pasar baru dan menyesuaikan strategi penetapan harga, sehingga menciptakan volatilitas tambahan dalam perdagangan baja.

Dalam konteks ini, tindakan antidumping Jepang dipandang sebagai langkah defensif untuk menjaga stabilitas pasar domestiknya.

Bukan tindakan pertama yang dilakukan Jepang baru-baru ini

Ini adalah investigasi anti-dumping kedua yang dilakukan Jepang dalam beberapa bulan terakhir.

Pada bulan Juli, Tokyo memulai penyelidikan terhadap gulungan, lembaran, dan strip baja tahan karat canai dingin yang mengandung nikel dari Tiongkok dan Taiwan.

Kedua tindakan tersebut menandakan sikap yang lebih tegas dari pemerintah Jepang dalam melawan apa yang dianggapnya sebagai praktik perdagangan yang tidak adil.

Menurut Bloomberg, jika penyelidikan saat ini menyimpulkan telah terjadi dumping, Jepang dapat mengenakan bea masuk baru terhadap produk baja Tiongkok dan Korea Selatan.

Langkah tersebut akan menambah daftar pembatasan perdagangan global yang akan membentuk kembali pasar baja pada tahun 2025.

(***)

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Riau24. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak