RIAU24.COM - Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Prof Hikmahanto Juwana memuji langkah Indonesia menyikapi aksi koboi Amerika Serikat (AS) yang menciduk Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
Indonesia diketahui menyerukan dialog ketimbang sekadar mengutuk tindakan tersebut, dikutip dari rmol.id, Senin, 5 Januari 2025.
Tambahnya, posisi Indonesia saat ini adalah manifestasi nyata dari Pasal 2 Ayat 3 Piagam PBB yang mengamanahkan penyelesaian sengketa internasional melalui jalan damai.
Indonesia memilih berdiri di garis tengah: tidak ikut-ikutan mengutuk keras seperti Rusia dan China, namun juga tidak membenarkan aksi sepihak Washington.
"Posisi RI tidak mengutuk AS seperti negara-negara Amerika Latin atau Rusia. Namun, posisi ini juga sama sekali tidak membenarkan tindakan AS. Ini selaras dengan semangat politik luar negeri bebas aktif," ujarnya.
Dia juga melihat ada celah besar bagi Presiden Prabowo Subianto untuk tampil sebagai aktor kunci atau mediator di tengah dunia yang kini terbelah.
Dia menilai sikap Indonesia yang moderat memungkinkan Prabowo melakukan diplomasi shuttle diplomacy ke pihak-pihak yang bertikai.
"Ini sesuai dengan garis politik luar negeri di bawah Presiden Prabowo yang menginginkan keterlibatan aktif Indonesia dalam masalah internasional. Dunia butuh penengah saat posisi negara-negara lain sudah terpolarisasi tajam antara mendukung atau mengutuk AS," sebutnya.