Pasca Gempa Dahsyat, Bau Mayat Membusuk di Jalanan Myanmar

R24/dev
Pasca Gempa Dahsyat, Bau Mayat Membusuk di Jalanan Myanmar
Pasca Gempa Dahsyat, Bau Mayat Membusuk di Jalanan Myanmar

RIAU24.COM - Beberapa waktu lalu gempa kuat melanda Myanmar hingga menyebabkan kerusakan parah di seluruh wilayah. Salah satu warga, Ko Zeyer, menceritakan kondisi terkini pasca gempa.

Ko Zeyer yang berasal dari Sagaing itu mengungkapkan rusaknya jembatan dan banyaknya bangunan runtuh. Meski begitu, ia berhasil menemukan keluarganya dalam keadaan selamat.

Namun, banyak temannya telah meninggal dan sebagian besar kota itu hancur. Di sekelilingnya, orang-orang masih terperangkap di bawah reruntuhan, belum terhitung di antara 3.145 orang yang dipastikan meninggal seminggu setelah gempa dahsyat tersebut.

"Bau mayat telah memenuhi kota," kata Ko Zeyar, yang merupakan salah satu pekerja sosial di lokasi gempa, dikutip dari CNN.

Sementara penduduk lain menggambarkan serbuan untuk menguburkan mayat di kuburan massal.

Kurangnya Makanan dan Air
Para korban gempa mengantre untuk mendapatkan makanan dan air. Mereka pun banyak yang tidur di luar beralaskan tikar.

Suhu di sana juga mencapai 37 derajat celcius saat gempa susulan terus mengguncang wilayah tersebut.

"Hampir seluruh kota tinggal dan tidur di jalan, lapangan, atau lapangan bola, termasuk saya sendiri. Karena itu sangat menakutkan," ungkap Ko Zeyer.

"Saya tidak tidur di dalam, tetapi di depan pintu sehingga saya dapat dengan mudah berlari," sambungnya melalui telepon saat gempa susulan lainnya terjadi pada Kamis malam.

Kota yang Hancur
Pekerja sukarelawan Kyaw Min juga menceritakan kondisi kota Sagaing pasca gempa. Ia mengatakan banyak rumah, sekolah, kuil, masjid, dan toko yang hancur.

"Tempat ini tampak seperti tempat kematian, seperti kota yang dibombardir dengan bom nuklir," katanya.

Gempa bumi tersebut menyebabkan kerusakan luas di dekat Mandalay, rumah bagi sekitar 1,5 juta orang, dan ibu kota militer Naypyidaw. Gempa tersebut juga terasa di negara tetangga Thailand dan China.

Selama berhari-hari, Kyaw Min dan relawan penyelamat lainnya telah menggali puing-puing dengan tangan kosong atau peralatan minimal untuk mencari korban selamat.

Potongan Jasad Berserakan
"Kami berhasil menyelamatkan sebanyak mungkin orang dengan peralatan terbatas yang kami miliki," tutur Kyaw Min.

"Kami menemukan banyak mayat, termasuk anak-anak dan orang tua. Mayat tanpa kepala, tangan, atau kaki, kami telah mengalami pengalaman yang sangat mengerikan," lanjutnya.

Menurut Kyaw Min, sekitar 80 persen kota Sagaing rusak akibat gempa dan ada kerusakan di seluruh kota pedesaan di sekitarnya.

Jalan yang menghubungkan kota-kota dan desa-desa terpencil rusak serta berkelok-kelok, sehingga memperlambat upaya penyelamatan dan bantuan. Termasuk pengiriman alat berat seperti ekskavator dan backhoe.

"Misi penyelamatan atau bantuan tidak dapat segera tiba di Sagaing. Jembatan yang menghubungkan Sagaing rusak parah," beber Ko Zeyer.

"Itu sebabnya, banyak yang kehilangan nyawa. Sudah terlambat untuk menyelamatkan orang-orang saat bantuan tiba," pungkasnya. *** 

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Riau24. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak