RIAU24.COM - Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib, alias Gus Salam bicara tentang penataan kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU).
Menurutnya, sejak awal NU merupakan perhimpunan keagamaan dan kemasyarakatan yang bertumpu pada kepemimpinan ulama, baik dalam dimensi keilmuan, moral, maupun sosial kebangsaan, dikutip dari rmol.id, Kamis, 29 Januari 2026.
"Dalam tradisi NU, kepemimpinan tidak dibangun di atas kekuasaan, tetapi di atas ilmu, adab, keteladanan, dan keberkahan. Ulama bukan sekadar pengurus, melainkan penjaga nilai dan penuntun umat," ujarnya.
Namun, seiring perjalanan waktu, NU berkembang menjadi organisasi yang sangat besar dan kompleks.
"Skaligus berhadapan langsung dengan dinamika sosial, politik, dan kebangsaan yang semakin rumit. Dalam situasi seperti ini, ketulusan saja dinilai tidak cukup," sebutnya.
Saat ini penting menata kepemimpinan NU yang berpijak pada supremasi ulama.
Ulama harus menjadi penentu arah organisasi, bukan sekadar pelengkap struktur.
"Serta perlunya pemisahan yang tegas antara otoritas moral, kebijakan, dan pelaksana agar tidak terjadi tumpang tindih peran," ujarnya.
Lalu, musyawarah mufakat harus menjadi prinsip mutlak dalam pengambilan keputusan di NU, tanpa voting, dominasi, ataupun pemaksaan kehendak.
Tradisi musyawarah mufakat merupakan warisan para ulama dan Wali Songo yang telah membentuk peradaban Islam Nusantara.