Golkar Pihak yang Paling Rajin Membelot, Tapi Paling Lantang Suarakan Koalisi Permanen

R24/azhar
Ketum Golkar Bahlil Lahadalia. Sumber: Golkar
Ketum Golkar Bahlil Lahadalia. Sumber: Golkar

RIAU24.COM - Pengamat politik Citra Institute, Efriza menilai wacana Partai Golkar soal pembentukan koalisi permanen dinilai berakhir sebagai jargon politik belaka.

Dia berpedoman kepada sejarah bahwaa Golkar yang kerap menjadi pihak yang paling tidak konsisten menjaga komitmen koalisi, dikutip dari rmol.id, Minggu, 4 Januari 2026.

Dimulai sejak era Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Golkar berkali-kali tercatat keluar barisan atau mengubah sikap politik setelah pemilu meski sebelumnya menjadi bagian dari koalisi pemerintahan.

Golkar dia nilai nkonsistensi dan kecenderungan membelot dari barisan pendukung pemerintah.

"Golkar bicara koalisi permanen tapi justru Golkar sendiri yang selama ini membuat koalisi rapuh. Kalau kita belajar dari sejarah politik era reformasi polanya selalu berulang," sebutnya.

Tambahnya, gagasan koalisi permanen sulit diwujudkan tanpa fondasi platform bersama yang kuat.

Serta berkomitmen jangka panjang lintas kepemimpinan partai.

"Gagasan ini lebih terlihat sebagai wacana strategis ketimbang realitas politik yang benar-benar bisa dijalankan dalam waktu dekat. Contoh konkretnya sangat banyak," ujarnya.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Riau24. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak