RIAU24.COM - Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS) Selamat Ginting menilai memilih Panglima TNI berikutnya dari Angkatan Laut dapat menjadi pesan politik bahwa Presiden Prabowo berdiri di atas seluruh matra secara setara.
"Karena itu, momentum sekarang merupakan waktu yang tepat untuk memberikan kesempatan kepada Angkatan Laut," ujarnya dikutip dari rmol.id, Sabtu 8 Agustus 2026.
Alasannya dari perspektif organisasi, penunjukan KSAL Laksamana Muhammad Ali sebagai Panglima TNI akan mengembalikan keseimbangan antarmatra yang selama ini menjadi salah satu tradisi tidak tertulis dalam regenerasi kepemimpinan TNI.
Tambahnya, Angkatan Udara memperoleh sekitar empat tahun kepemimpinan, Angkatan Darat sekitar empat tahun, sedangkan Angkatan Laut baru sekitar satu tahun.
Dari sisi keseimbangan organisasi, terdapat alasan yang cukup kuat agar giliran kepemimpinan kembali diberikan kepada matra laut.
Hal ini penting bukan semata-mata soal pemerataan jabatan, melainkan menjaga rasa memiliki (sense of ownership) seluruh matra terhadap institusi TNI.
Sebagian kalangan mungkin berpendapat Presiden Prabowo Subianto akan lebih nyaman dipimpin oleh Panglima dari Angkatan Darat mengingat latar belakangnya sebagai prajurit Angkatan Darat, lulusan Akmil 1974.
"Pertimbangan itu sah sebagai hak prerogatif Presiden," ujarnya.