Pengembangan Hutan Adat Imbo Putui Dorong Pertumbuhan Ekonomi Wisata Desa di Kampar

R24/dev
Pengembangan Hutan Adat Imbo Putui Dorong Pertumbuhan Ekonomi Wisata Desa di Kampar
Pengembangan Hutan Adat Imbo Putui Dorong Pertumbuhan Ekonomi Wisata Desa di Kampar

RIAU24.COM, Kampar - Pengembangan Hutan Adat Imbo Putui di Desa Petapahan, Kabupaten Kampar, Riau, mulai menunjukkan dampak ekonomi melalui pertumbuhan sektor wisata berbasis konservasi. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan mendorong peningkatan kapasitas pengelolaan destinasi sekaligus membuka peluang pendapatan baru bagi masyarakat sekitar.

Melalui Program Desa Wisata, PHR mendukung penguatan ekosistem wisata Imbo Putui dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat. Program tersebut mencakup peningkatan kapasitas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pengembangan promosi digital, serta pembangunan infrastruktur pendukung untuk meningkatkan daya saing destinasi.

Hutan Adat Imbo Putui merupakan hutan adat pertama di Provinsi Riau yang memperoleh pengakuan resmi negara melalui Surat Keputusan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2019. Kawasan ini kemudian ditetapkan secara resmi sebagai hutan adat pada 2020 dan menjadi salah satu contoh pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat.

Dengan potensi wisata alam berupa sungai, area berkemah, dan jalur trekking, Imbo Putui memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berkelanjutan. Namun, sebelum dilakukan penguatan program, kawasan tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan fasilitas wisata dan kapasitas pengelolaan.

Dukungan pengembangan yang diberikan PHR mencakup peningkatan fasilitas dasar dan tata kelola kawasan. Jumlah fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) meningkat dari dua unit menjadi enam unit, area camping diperluas, musala direvitalisasi, papan informasi diperbarui, serta fasilitas kebersihan ditambah untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung.

Ketua Pokdarwis Imbo Putui, Said Afrizal, mengatakan peningkatan fasilitas tersebut turut mendorong perubahan sistem pengelolaan wisata menjadi lebih profesional. Masyarakat kini terlibat aktif dalam pengelolaan kawasan, mulai dari pelayanan pengunjung, pengaturan area wisata, hingga menjaga kepatuhan terhadap aturan adat.

"Pengelolaan wisata tidak hanya soal fasilitas, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu menjaga kawasan agar tetap nyaman dan berkelanjutan. Kami terus mengajak pengunjung menjaga kebersihan dan menghormati aturan adat yang berlaku," ujar Said.

Dari sisi bisnis, pengembangan destinasi mulai memberikan dampak terhadap peningkatan aktivitas ekonomi lokal. Selama periode libur panjang dalam satu bulan terakhir, jumlah kunjungan wisatawan mencapai hampir 400 orang yang berasal dari berbagai segmen, seperti keluarga, komunitas, dan mahasiswa.

Peningkatan jumlah wisatawan tersebut turut berdampak pada pendapatan masyarakat. Pendapatan mingguan yang sebelumnya berada di kisaran Rp300 ribu meningkat menjadi sekitar Rp3 juta per minggu pada periode ramai kunjungan, atau tumbuh hingga sepuluh kali lipat.

Manager Corporate Social Responsibility (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan pengembangan Imbo Putui merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam menciptakan manfaat ekonomi yang berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan dan budaya lokal.

"PHR ingin memastikan kekayaan alam dan budaya dapat tetap terjaga sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Kami berharap Imbo Putui dapat menjadi model pengembangan desa wisata berkelanjutan di Riau," kata Iwan.

Pengembangan Hutan Adat Imbo Putui memperlihatkan potensi ekonomi dari sektor pariwisata berbasis konservasi. Dengan dukungan peningkatan kapasitas masyarakat dan infrastruktur, kawasan ini tidak hanya menjadi ruang pelestarian lingkungan, tetapi juga berkembang sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi desa. ***
 

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Riau24. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak