RIAU24.COM - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Rosan Perkasa Roeslani menyebut Pulau Jawa tak lagi menjadi daya tarik utama dari kalangan Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Bahkan, antara Jawa dan luar Jawa jumlahnya sepanjang Januari–Juni 2026 berlangsung relatif seimbang, dikutip dari rmol.id, Jumat 17 Juli 2026.
"Nah, kemudian PMA-PMDN-nya, ini juga relatif hampir sama. Total investasi dalam negerinya mencapai Rp502,9 triliun atau 49,8 persen, dan PMA-nya ini mencapai Rp507,6 triliun," ujarnya.
Dari sisi wilayah, investasi juga tersebar cukup merata antara Pulau Jawa dan luar Jawa.
Investasi di Pulau Jawa mencapai Rp502,8 triliun atau 49,8 persen dari total realisasi nasional, sedangkan luar Jawa sedikit lebih tinggi dengan Rp507,8 triliun atau sekitar 50,2 persen.
Hanya saja, jika dilihat berdasarkan provinsi, DKI Jakarta masih menjadi pusat investasi terbesar di Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi gabungan PMA dan PMDN di ibu kota mencapai Rp173,6 triliun atau 17,2 persen dari total investasi nasional.
Posisi berikutnya ditempati Jawa Barat dengan investasi Rp138,1 triliun, disusul Jawa Timur sebesar Rp72,7 triliun, Sulawesi Tengah Rp68,7 triliun, dan Banten Rp66,3 triliun.
"Untuk totalnya memang gabungan antara PMA dan PMDN itu DKI Jakarta masih menduduki tempat pertama, 17,2 persen (Rp173,6 triliun). Kemudian diikuti dengan Jawa Barat Rp138,1 triliun, Jawa Timur Rp72,7 triliun, Sulawesi Tengah Rp68,7 triliun, dan Banten Rp66,3 triliun," ujarnya.