RIAU24.COM - Selembar kertas yang setiap hari digunakan untuk mencetak dokumen, buku, hingga berbagai kebutuhan perkantoran ternyata memiliki perjalanan panjang sebelum sampai ke tangan konsumen.
Di balik lembaran putih itu, ada bibit pohon yang ditumbuhkan, hutan tanaman yang dikelola, kawasan gambut yang dipulihkan, hingga masyarakat yang dilibatkan untuk menjaga ekosistem.
Cerita itu terlihat di lanskap hutan gambut Semenanjung Kampar dan Pulau Padang, Riau. Kawasan yang pernah menghadapi tekanan pembalakan liar dan degradasi lahan tersebut kini menjadi salah satu lokasi program restorasi ekosistem yang dijalankan Restorasi Ekosistem Riau (RER), sebuah inisiatif yang didukung APRIL Group melalui PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).
Program tersebut dimulai pada 2013 dengan tujuan melindungi, memulihkan, mengkaji, dan mengelola kembali hutan gambut yang terdegradasi.
Luas kawasan restorasi yang disebut mencapai 150.693 hektare, terdiri atas 130.095 hektare di Semenanjung Kampar dan 20.599 hektare di Pulau Padang.
Kawasan tersebut bukan hanya hamparan hutan. Di dalamnya terdapat ekosistem gambut yang berfungsi sebagai habitat flora dan fauna sekaligus penyimpan karbon.
Data yang disampaikan RER menyebut kawasan tersebut menjadi rumah bagi sekitar 838 spesies flora dan fauna serta menyimpan sedikitnya 688 juta ton karbon.
Dari Tunas hingga Selembar Kertas
Perjalanan produksi kertas bermula jauh sebelum pohon ditanam di kawasan hutan tanaman.
Di Pelalawan, terdapat Kerinci Central Nursery (KCN), fasilitas pembibitan APRIL Group yang menjadi tempat pengembangan bibit tanaman untuk kebutuhan hutan tanaman.
Bibit Acacia mangium dan Acacia crassicarpa dikembangkan melalui proses pembibitan dan riset sebelum ditanam sesuai karakteristik lahan.
Pohon-pohon tersebut kemudian menjadi salah satu sumber bahan baku industri pulp dan kertas.
Dalam materi perusahaan, akasia disebut memiliki serat yang sesuai untuk kebutuhan produksi pulp dan memiliki siklus pertumbuhan relatif cepat di Indonesia.
Dari pohon yang tumbuh hingga menjadi pulp, proses tersebut kemudian menghasilkan berbagai produk kertas, termasuk PaperOne.
Namun, cerita mengenai kertas tidak berhenti di pabrik.
Bagi RAPP, keberlanjutan juga ditempatkan pada bagaimana kawasan alam yang berada di luar areal produksi dilindungi dan dipulihkan.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah prinsip 1-for-1, yakni komitmen untuk memulihkan satu hektare kawasan untuk setiap satu hektare hutan tanaman yang dikembangkan.
Head External Affairs & RER Communications APRIL Group, Nyoman Iswarayoga, mengatakan program restorasi telah berjalan sejak 2013.
“Tahun 2013 kami sudah mulai bekerja memulihkan dan melestarikan hutan gambut seluas 150.693 hektare yang terdegradasi di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang,” ujar Nyoman.
Memulihkan Gambut, Bukan Sekadar Menanam Pohon
Restorasi gambut bukan perkara sederhana.
Ekosistem gambut memiliki karakter berbeda dengan hutan tanah mineral. Ketika gambut kehilangan air dan mengering, risiko kebakaran meningkat dan karbon yang tersimpan di dalamnya dapat terlepas ke atmosfer.
Karena itu, pekerjaan restorasi tidak hanya dilakukan dengan menanam pohon.
Di sejumlah lokasi, kanal-kanal yang sebelumnya digunakan untuk mengangkut kayu dan menyebabkan gambut mengering mulai ditangani. Pemulihan tata air menjadi salah satu bagian penting untuk menjaga kondisi gambut tetap basah.
Di kawasan RER, aktivitas juga mencakup pemantauan keanekaragaman hayati, penelitian sosial-ekologi, perlindungan kawasan, hingga penanaman kembali vegetasi asli.
Di tengah kawasan Semenanjung Kampar, terdapat Eco-Research Camp yang digunakan sebagai pusat penelitian dan pemantauan ekosistem gambut.
Dari tempat tersebut, tim melakukan pengumpulan data mengenai kondisi flora, fauna, air, hingga perkembangan kawasan restorasi.
Pendekatan berbasis riset tersebut kemudian dipadukan dengan kegiatan di lapangan.
Masyarakat sekitar dilibatkan dalam patroli, penanaman, pemantauan kawasan, hingga program pemberdayaan ekonomi.
Pulau Padang dan Hutan yang Perlahan Pulih
Di Pulau Padang, cerita restorasi memiliki tantangan tersendiri.
Kawasan tersebut sebelumnya menghadapi aktivitas pembalakan liar yang meninggalkan tunggul-tunggul pohon serta lahan yang terdegradasi.
Kini, upaya pemulihan dilakukan secara bertahap.
PT Gemilang Cipta Nusantara (GCN), yang disebut mendapat penugasan dari RAPP, menjalankan kegiatan restorasi menggunakan pendekatan Assisted Natural Regeneration (ANR).
Metode tersebut memanfaatkan kemampuan alam untuk memulihkan dirinya dengan dukungan intervensi manusia.
Pada lahan yang terbuka dilakukan penanaman kembali. Di kawasan yang vegetasinya masih sedang, dilakukan pengayaan tanaman. Sementara area yang masih cukup rapat mendapat perawatan dan pengendalian gulma.
Sejumlah tanaman asli seperti meranti, bintangur, gelam, kelat, dan punak ditanam kembali.
Asisten Kepala Restorasi PT GCN, M. Mulyo, mengatakan area konservasi yang dikelola mencapai sekitar 20.450 hektare.
Setiap tahun, penanaman dilakukan pada lahan sekitar 6 hingga 10 hektare dengan rata-rata 400 bibit per hektare.
“Setiap tahun kami memulai kembali siklus alam dengan menanam di lahan seluas 6 hingga 10 hektare. Dengan rata-rata 400 bibit pohon per hektare, itu berarti ada sekitar 2.400 hingga 4.000 batang pohon baru yang tumbuh setiap tahunnya,” ujar Mulyo.
Masyarakat Tak Lagi Sekadar Penonton
Restorasi hutan juga bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Di Pulau Padang, masyarakat dilibatkan melalui program kemitraan agroforestri. Warga dapat menanam tanaman produktif di sela-sela kawasan yang dikelola untuk mendukung pemulihan lingkungan sekaligus meningkatkan sumber pendapatan.
Kerja sama juga dilakukan bersama Laskar Alam Riau.
Bibit tanaman produktif seperti karet, pinang, dan kopi disalurkan kepada masyarakat, disertai dukungan pemeliharaan hingga tanaman menghasilkan.
Bendahara Laskar Alam Riau sekaligus Ketua Koperasi Jasa Tani Merbau Sejahtera, Yahya, mengatakan kemitraan tersebut telah berjalan selama beberapa tahun.
“Bekerja sama dengan RAPP benar-benar membawa perubahan. Lewat program kemitraan ini, tak hanya lapangan kerja yang terbuka lebih luas bagi warga setempat, tetapi juga lahan-lahan tidur yang selama ini terabaikan kini telah ditanami dengan tanaman-tanaman produktif,” katanya.
Menurut Yahya, manfaat program tidak hanya ditujukan untuk masyarakat yang terlibat saat ini, tetapi juga diharapkan menjadi sumber ekonomi bagi generasi berikutnya.
Ada Jagawana di Balik Hutan yang Dijaga
Luasnya kawasan restorasi membuat perlindungan hutan membutuhkan personel khusus.
Di Pulau Padang, RAPP melalui GCN menyiapkan personel penjaga hutan yang tergabung dalam Satria Elang Nusantara (SEN).
Para jagawana melakukan patroli untuk mengawasi potensi pembalakan liar, perambahan, kebakaran, sekaligus memantau kondisi kawasan.
Surya Saputro, salah seorang jagawana, menggambarkan pekerjaan tersebut sebagai tugas yang berlangsung setiap hari.
“Tidak ada hari tanpa pengawasan. Kami di sini untuk memastikan tidak ada pohon ditebang secara ilegal, tidak ada api yang muncul tanpa alasan,” katanya.
Dalam skema perlindungan tersebut, masyarakat juga diharapkan menjadi bagian dari sistem pengawasan kawasan.
Bagi tim RER, menjaga hutan tidak cukup hanya mengandalkan patroli. Rasa memiliki masyarakat terhadap kawasan menjadi bagian penting dari perlindungan jangka panjang.
Dari Hutan, Kembali ke Ekonomi Desa
Salah satu contoh kemitraan berada di Desa Bagan Melibur, Kecamatan Merbau, Kepulauan Meranti.
Melalui kerja sama dengan RAPP, lahan konsesi sekitar 200 hektare dikelola dengan skema yang memberikan manfaat ekonomi kepada desa.
Kepala Desa Bagan Melibur, Isnadi Esman, mengatakan sejak 2023 desa menerima dana sekitar Rp208 juta setiap tahun dari skema tersebut.
“Ini konsekuensi sosial bagi perusahaan yang memberikan dampak terhadap masyarakat dan lingkungan di sekitar desa,” ujar Isnadi.
Dana tersebut kemudian diarahkan untuk pengembangan aset dan kegiatan ekonomi desa, termasuk kebun sagu.
Bagi masyarakat Bagan Melibur, sagu bukan sekadar tanaman pangan. Komoditas tersebut juga menjadi bagian dari identitas dan sumber ekonomi masyarakat di kawasan gambut.
Isnadi berharap dana yang diterima desa tidak hanya digunakan untuk kebutuhan jangka pendek, tetapi menjadi investasi ekonomi yang dapat dinikmati masyarakat dalam jangka panjang.
Restorasi dan Produksi Berjalan Berdampingan
APRIL Group menyatakan komitmen keberlanjutannya melalui APRIL2030 yang mencakup empat pilar, yakni iklim positif, lanskap yang berkembang, kemajuan inklusif, dan pertumbuhan berkelanjutan.
Dalam pelaksanaannya, perusahaan juga menyebut menerapkan Sustainable Forest Management Policy (SFMP) 2.0 sebagai pedoman pengelolaan hutan.
RER menjadi salah satu bagian penting dari komitmen tersebut.
Program yang pada awalnya mencakup sekitar 20.000 hektare di Semenanjung Kampar kemudian diperluas menjadi sekitar 150.000 hektare. APRIL juga pernah menyatakan komitmen investasi US$100 juta untuk periode 10 tahun pertama program restorasi.
Pada akhir 2020, APRIL menyatakan akan mengalokasikan US$1 untuk setiap ton serat tanaman yang dipanen setiap tahun untuk kegiatan konservasi dan restorasi lanskap sebagai bagian dari APRIL2030.
Presiden Direktur PT RAPP Sihol Aritonang mengatakan keberadaan RER merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk menunjukkan bahwa aktivitas bisnis juga dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
“Bisnis yang baik tentu tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh perusahaan, tetapi juga oleh lingkungan dan masyarakat sekitar,” ujarnya.
Empat Kepentingan yang Harus Berjalan Bersama
Direktur PT RAPP Mulia Nauli menyebut pendekatan perusahaan dalam menjalankan bisnis berangkat dari prinsip 4C, yakni Community, Country, Climate, dan Company.
Artinya, kepentingan masyarakat, negara, iklim, dan perusahaan ditempatkan dalam satu kerangka.
“Dalam menjalankan bisnis, kami tidak hanya memikirkan soal keuntungan perusahaan. Namun ada empat prinsip dasar yang menjadi kompas kami yakni Community, Country, Climate, dan Company,” kata Mulia.
Kerangka tersebut kemudian diterjemahkan dalam berbagai program, mulai dari pemberdayaan ekonomi, pendidikan dan kesehatan masyarakat, kepatuhan terhadap kewajiban perusahaan, hingga pengelolaan hutan dan restorasi ekosistem.
Pada akhirnya, perjalanan selembar kertas tidak hanya berhenti pada proses produksi.
Ada bibit yang tumbuh di persemaian, pohon yang dipanen dari hutan tanaman, kawasan gambut yang dijaga, kanal yang dipulihkan, satwa yang dipantau, serta masyarakat yang dilibatkan dalam menjaga lanskap.
Di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang, upaya tersebut masih menjadi pekerjaan panjang.
Hutan tidak pulih dalam sehari. Begitu pula membangun ekonomi masyarakat yang bergantung pada alam.
Namun dari setiap tunas yang ditanam dan setiap kawasan yang dijaga, muncul satu pesan penting: keberlanjutan bukan hanya tentang bagaimana mengambil manfaat dari hutan, tetapi juga bagaimana memastikan hutan tetap memiliki kehidupan setelah hari ini.(rw)***