Petani Mitra PTPN IV di Riau Bagi-bagi THR Rp28 Juta

R24/dev
Petani Mitra PTPN IV di Riau Bagi-bagi THR Rp28 Juta
Petani Mitra PTPN IV di Riau Bagi-bagi THR Rp28 Juta

RIAU24.COM - Menjelang Idul Fitri, suasana di Desa Rimba Jaya, Kecamatan Tapung Hulu, Kabupaten Kampar, Riau terasa sedikit berbeda.

Di kantor KUD Gemah Ripah, beberapa petani berkumpul membicarakan satu hal yang sama, tunjangan hari raya (THR).

Angkanya bukan ratusan ribu. Bukan pula jutaan kecil seperti yang lazim diterima para karyawan.

Tahun ini, setiap anggota koperasi menerima THR hingga Rp28 juta.

“Alhamdulillah tahun ini Rp28 juta per petani,” kata Supendi, Ketua KUD Gemah Ripah.

Bagi para petani di desa itu, angka tersebut bukan sekadar kabar baik menjelang Idul Fitri. Ia menjadi penanda bahwa komitmen dalam bermitra dengan PTPN IV PalmCo bertahun-tahun mengelola kebun secara kolektif akhirnya berbuah manis.

Kebun yang Dikelola Bersama

KUD Gemah Ripah mengelola kebun sawit seluas 703 hektare yang dimiliki oleh 352 petani anggota koperasi.

Hamparan kebun itu sebagian besar masih tergolong muda. Usia tanaman sekitar lima tahun atau masuk kategori tanaman menghasilkan (TM 2).

Namun produktivitasnya terus meningkat setiap tahun.

Ketika koperasi itu mulai bermitra dengan PTPN V, yang kini menjadi PTPN IV Regional III, pada 2019 silam, produksi mereka pada TM 1 telah mencapai 3.500 ton tandan buah segar (TBS).

Setahun kemudian, produksinya melonjak drastis menjadi 8.500 ton.

Peningkatan itu terus berlanjut. Sepanjang 2025, produksi mencapai 13.200 ton, dengan total pendapatan koperasi sekitar Rp42,49 miliar.

Pendapatan tersebut kemudian dibagi kepada para anggota koperasi. Kini rata-rata petani menerima penghasilan sekitar Rp4 hingga Rp5 juta per bulan.

“Sekarang bisa sekitar Rp5,5 juta sebulan. Itu sudah di luar simpanan dan biaya operasional,” kata Supendi.

Bagi para petani di KUD Gemah Ripah, perubahan terbesar bukan hanya pada hasil panen. Tetapi juga pada cara mereka mengelola kebun.

Kemitraan membuat mereka melangsungkan teknik budidaya dengan standar tinggi. Mulai dari pemilihan bibit, pemupukan, hingga perawatan tanaman dilakukan dengan pendekatan yang lebih terencana. Standar pengelolaan kebun mengikuti praktik perkebunan modern.

Manajemen koperasi juga dijalankan secara transparan. Pendapatan, biaya operasional, serta simpanan anggota dipisahkan secara jelas. Setiap bulan petani menerima gaji sekaligus memiliki tabungan melalui koperasi.

Sistem itu membuat pendapatan petani lebih stabil dan terukur.

Idul Fitri yang Lebih Cerah

Di desa seperti Rimba Jaya, kenaikan pendapatan petani terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Rumah yang diperbaiki. Anak-anak yang bisa melanjutkan sekolah. Hingga suasana Idul Fitri yang lebih meriah.

THR Rp28 juta yang diterima petani tahun ini menjadi simbol perubahan tersebut.

Bagi sebagian keluarga, itu berarti Idul Fitri lebih meriah. Mereka bisa pulang kampung, atau berkumpul bersama keluarga. Dan terpenting, berbagi kebahagiaan bersama.

Dan bagi anak-anak desa, amplop Idul Fitri tahun ini mungkin akan terasa lebih tebal dari biasanya.

Keberhasilan KUD Gemah Ripah juga tidak lepas dari pola kemitraan yang dijalankan bersama PTPN IV Regional III.

Melalui kemitraan tersebut, petani mendapatkan pendampingan dalam pengelolaan kebun, mulai dari penggunaan bibit unggul, rekomendasi pemupukan, hingga perawatan tanaman.

Perusahaan juga membantu memperkuat kelembagaan koperasi agar pengelolaan kebun dan keuangan berjalan lebih tertib.

Region Head PTPN IV Regional III, Bambang Budi Santoso, menyebut keberhasilan koperasi tersebut sebagai contoh bagaimana kemitraan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani.

Menurutnya, petani tidak lagi sekadar menjadi pemasok bahan baku, tetapi bagian dari ekosistem industri sawit yang sama.

Kisah KUD Gemah Ripah sebenarnya bukan satu-satunya. PTPN IV PalmCo saat ini menjalin kemitraan dengan ribuan petani plasma di Riau dengan total lahan sekitar 56.000 hektare.

Melalui pendampingan teknis, penyediaan bibit unggul, serta penguatan koperasi, produktivitas kebun rakyat didorong agar mendekati standar kebun perusahaan. Bagi petani di Desa Rimba Jaya, perubahan itu sudah terasa nyata.

Dari kebun sawit yang dulu hanya menghasilkan pendapatan pas-pasan, kini mereka mampu menikmati hasil yang jauh lebih baik.

Dan tahun ini, menjelang Idul Fitri, para petani memiliki satu cerita yang akan lama dikenang, THR Rp28 juta dari kebun sawit yang mereka kelola sendiri.

Ia mengatakan bahwa keberhasilan tersebut tak lepas dari pondasi yang dibangun sejak lama. Ketika PTPN V dipimpin oleh Jatmiko Santosa pada 2019, semangat kemitraan diperkuat secara serius.

Bambang mengatakan Jatmiko yang kini mengemban amanah sebagai Dirut PalmCo tersebut menegaskan PTPN untuk kembali khittah perusahaan negara, tumbuh bersama masyarakat.

Pendampingan dilakukan secara intensif. Perusahaan menyiapkan asisten dan asisten kepala khusus untuk mendampingi petani mitra.

Mulai dari pemilihan bibit, pemupukan, perawatan kebun, hingga manajemen pane, semuanya mengikuti standar perusahaan.

Tujuannya jelas: produktivitas petani harus meningkat, dan kesejahteraan mereka harus nyata.

Bahkan perusahaan berani memberikan jaminan. Jika produksi kebun mitra berada di bawah standar nasional, ada skema perlindungan yang disiapkan. Hasilnya mulai terlihat. ***

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Riau24. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak