RIAU24.COM - Untuk wilayah Kalimantan, pasukan Belanda sempat tak berkutik dengan keberadaan suku Dayak Punan.
Alasannya karena suku ini dibekali senjata sumpit yang mematikan dikutip dari okezone.com, Jumat, 4 Februari 2022.
Saking takutnya, Belanda menjuluki suku ini dengan sebutan Pasukan Hantu.
Tidak hanya Belanda yang gagal menguasai wilayah Kalimantan. Tentara Jepang yang dikenal bengis dan haus darah itu juga tidak bisa menembus pedalaman hutan Kalimantan karena kuatnya persatuan Suku Dayak ini.
Baca Juga: Idris Laena: Mencerdaskan Bangsa, Membangun Peradaban dari Alexandria Islamic School
Perang melawan tentara Jepang ini terjadi pada April hingga Agustus 1944. Perang tersebut dikenal juga dengan Perang Madjang Desa di Embuan Kunyil, Kecamatan Maliau, Kabupaten Sanggau.
Selain dibekali dengan racun, sumpit kepunyaan suku ini dipergunakan dalam kesunyian.
Sumpit perang suku Dayak Punan memiliki tiga bagian. Pertama batang sumpit yang bentuknya seperti pipa besi.
Lalu anak sumpit atau uyan yang beracun pada matanya. Kemudian mata tombak yang terbuat dari besi.
Baca Juga: Kementerian Keuangan Pindahkan 213 Staf ke Direktorat Pajak untuk Tingkatkan Kapasitas Penagihan
Mata tombak pada ujung sumpit membuat sumpit Dayak Punan menjadi istimewa.
Saat mata sumpit habis, sumpit bisa tetap digunakan untuk menyerang seperti tombak. Batang sumpit dibuat dengan menggunakan kayu ulin.
Sedangkan anak panahnya dibuat dengan menggunakan kayu tulang yang dibuat lebar pada bagian pangkalnya.